Mudah sekali moncong senjata memuntahkan peluru
ratusan jiwa meregang nyawa
Sementara kau, tertawa
Tempiasan suka, yang laknat kukira
Kau bunuh mereka
Dalam tanya tanpa jawaban
Tertumpah darah
ke bumi di mana mereka lahir
Tanpa mereka pernah mengerti
Kenapa kalian mengantarkan Kematian
Laknat betul
Haram dajah!
Kalian, manusia tanpa hati.
Kabut malam
Dingin sepekat tangis
Sanak tertinggal
Lagi-lagi tiada mengerti
India kau bakar dengan moncong bedilmu
Senyampang dendang kematian
Lelagu maut menitis air mata
Kukira, neraka sebaiknya bagimu
Bukan surga dengan bidadari dan peri
Alangkah nikmatnya, kau tebar duka dan benci
Lalu kau tuai kenikmatan pembenaranmu
Tidak! Itu tidak adil.
Kukira Tuhan tak begitu..
Seandainya boleh.. kudoakan
pintu neraka terbuka lebar untukmu
Agar hangus jiwamu,
Sampai masa tiada, sampai derita tak berkesudahan
Itu lebih pantas!
Sungguh, aku membencimu!
Maafkan aku ya Abba!
Camar, 1 Desember 2008