Burung Besi Pembawa Petaka

Kau datang ketika kehendak pun tiada. Sombong benar..

Kau bawa Kegelapan yang bersekutu dengan ketiadaan..

Tak bisa kupilih apa-apa, sebab sempat itu terasa seperti sang tiran.

Tak sempat ku tanya jiwa, siapkah atau belumkah? Semuanya sangat cepat. Untuk menata ujung rambutku pun aku tak ingat.

Apalagi untuk mengatur kata-kata, apa kabar Tuhan? Juga sekadar menyapa selamat tinggal pada yang tertinggal dalam kefanaan mereka.

Sombong benar kau maut, pengangkang kemanusiaan. Sebentar saja, tapi angkuhmu tiada tara. Padahal, setelahnya kau hanya pecundang belaka.

Kau datang ketika kehendak pun tiada. Tinggallah jerit dalam bisu. Puing-puing berserakan di permukaan. Bukan kejujuran, hanya sebuah bukti keterbatasan dan selebihnya, jadi jamuan ikan-ikan.

Bisu kini kami di sini. Menunggu tuntas jawab dari tanya yang tersisa untuk kalian. Kami tahu jawabnya. tapi manalah bisa kami cerita.

Pun tak kuasa kami menampar mulut-mulut sok tahu, penutur-penutur tak tahu malu. Banyak bicara seakan tahu segala sesuatu. Padahal mereka cuma seonggok otak dungu.

Dengarlah jerit kami dari debur ombak laut Jawa. Tanyakan mengapa kami pergi tanpa bicara. Kalau tak bisa, terimalah fakta bahwa kita memang tak bisa apa-apa. Kalau Tuhan sudah memanggil kita kembali padaNya.

29 Oktober 2018

kami yang mati hari ini bersama burung besi celaka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *