Saya Tidak Terdampar di Sekolah Theologia

Respons sejumlah orang yang mendengar rencana saya melanjutkan studi S2 di Sekolah Tinggi Theologia, macam-macam. Ada yang mengira saya hendak menjadi pendeta. Ada juga yang menganggap saya ini seolah-olah ’terdampar’. Jelas saya menolak anggapan itu. Saya tidak terdampar.

“Apa salahnya jemaat awam seperti saya meneruskan studi di sekolah theologia?” itu pertanyaan balik saya. Sejak semula saya berpendapat, tak ada salahnya kalau seorang jemaat ingin memperdalam ilmu theologinya secara formal.

Hal yang menginspirasi saya adalah perkataan Rasul Paulus di 1 Timotius 4:6. Paulus berkata: “…engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.”

Ketika memberikan diri untuk melayani Tuhan dalam berbagai pelayanan di gereja, termasuk untuk membina persekutuan remaja dan pemuda, saya terpaut pada ayat di atas. Frasa “terdidik dalam soal pokok iman” kemudian saya terjemahkan sebagai “belajar formal” di seminari atau sekolah theologi.

Mungkin saja, ada pendapat lain yang menganggap sebaliknya, bahwa belajar theologia tak mesti dilakukan secara formal. Tak salah juga. Nanti, menjelang akhir saya akan jelaskan maksudnya.

Theologi berasal dari kata Yunani Theos yang artinya Tuhan, dan logos yang artinya “kata”. Secara sederhana, itu berarti pengetahuan (mempelajari) tentang Tuhan. Kalau dalam pandangan kaum puritan Inggris dari abad ke-17, theologi itu berbicara tak hanya soal mempelajari tentang Tuhan, tapi lebih jauh, bagaimana hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Upaya untuk mempelajari atau memperdalam pengetahuan mengenai Tuhan itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukankah, ini adalah perintah Tuhan sendiri? Seperti yang disebut dalam Matius 22:32, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”

Saya mengutip Jared Wilson, seorang pendeta di Midwestern Baptist Theological Seminary di Kansas, yang pernah mengatakan dalam artikelnya Why Theological Study is for Everyone. “Mengasihi Tuhan Allah jelas lebih jauh dan dalam lagi artinya daripada studi theologi. Tapi tentu, tak lebih kurang dari itu, bukan?”

Pertumbuhan berkelanjutan kita dalam kasih karunia Tuhan, ketekunan kita sebagai orang kudus, betul-betul berhubungan dengan pengetahuan kita akan karakter dan karya Tuhan yang dinyatakan dalam FirmanNya.

Iman itu bukan lompatan ke dalam situasi gelap. Benar kata penulis Ibrani, bahwa iman itu adalah dasar bagi apa saja yang kita harapkan, dan bukti atas segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Oleh karena itu, pengetahuan akan Tuhan akan membawa kita pada ibadah dan penyembahan yang otentik dan bernyala-nyala. Sebab kita ini mempercayai Tuhan dan spiritualitas yang nyata, bukan yang samar-samar. Kita meletakkan iman percaya kita pada Roh Kudus yang nyata, di dalam Yesus Kristus yang hidup, sebagaimana dipaparkan dalam injil dan sejarah.

Mempelajari tentang Tuhan dengan akal budi kita seharusnya akan mengubah hati dan perilaku kita. Itulah maksud Rasul Paulus pada Roma 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Maksud saya, belajar theologi seharusnya dilepaskan dari anggapan bahwa itu selalu berkaitan dengan keinginan menjadi seorang pendeta. Dan belajar theologia juga tak mesti dikaitkan dengan kegiatan belajar informal di seminari atau sekolah tinggi teologia. Belajar theologi seharusnya menjadi panggilan setiap orang Kristen yang sejati.

Seperti kata gembala sidang saya di GSRI Depok, pak Pdt. Ayub Rusmanto, “Belajar theologia itu dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari, dalam pergumulan hidup dan pertumbuhan rohani kita.”

Studi theologia, bagi saya, (selain sebagai respons serius pada panggilanNya melayani) adalah sebuah ekspresi cinta padaNya. Saya yakin, semakin saya memaksa pikiran ini untuk menampung segala pengetahuan, membaca begitu banyak buku dan referensi, menulis begitu banyak artikel reflektif dan paper, termasuk membaca Firman Tuhan, serta segenap doa dan penyembahan, akan semakin menenggelamkan (bukan terdampar) diri saya ini pada kekaguman yang luar biasa pada Tuhan.

Seorang hamba Tuhan yang terbaik, kata Pdt. Robby Chandra, dari Badan Bina Pengerja GKI SW Jabar, dalam kotbahnya pada pembukaan kuliah semester di STT Iman Jakarta, adalah mereka yang mengalami turning point untuk menyadari bahwa dirinya adalah yang terbaik sebagai hasil pembentukan Tuhan. “Ciri-cirinya adalah selalu takjub dan terpesona oleh Tuhan itu sendiri,” ujarnya.

One thought on “Saya Tidak Terdampar di Sekolah Theologia

  1. Pingback: Bolehkah Jemaat Awam Studi Theologia? - Petra Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *