Dunkirk, Mengalah untuk Menang

Dunkirk (YouTube/WarnerBros.Pictures)

Dunkirk, adalah tentang pertahanan dan evakuasi ribuan tentara. Seakan-akan sebuah kekalahan, tapi sesungguhnya adalah sebuah awal untuk kemenangan besar.

Pertempuran di Dunkirk, Prancis, berlangsung pada 26 Mei-4 Juni 1940. Melibatkan dua kubu, Sekutu di satu pihak dan Jerman di pihak lain.

Pertempuran ini menewaskan kurang lebih 107.000 orang. Sungguh brutal sesungguhnya. Tapi Christopher Nolan membuat film bergenre perang tak perlu diwarnai darah, tubuh hancur, dan kengerian lain khas film perang.

Meski tanpa darah-darah begitu, film ini masih bisa dinikmati sebagai film perang yang menyajikan ketegangan tiada akhir berkat efek suara yang tak kita sadari membuat ketegangan meningkat, jantung berdegup kencang.

Pada beberapa scene, tak ada dialog yang terucap. Tapi gambar-gambar yang ditampilkan mendeskripsikan ketegangan dengan baik. Tanpa dialog, kita seakan bisa mendengar jantung kita yang berdegup sendiri, ditingkahi suara detak jam, yang butuh perhatian sedikit untuk mendengarnya.

Nolan juga cerdas menggabungkan tiga arena pertempuran (di darat, di laut, dan di udara) dalam satu struktur plot yang mengalir lancar dengan permainan waktu yang cantik.

Bahwa perlu satu minggu bagi penyintas perang Dunkirk (yakni ribuan tentara Inggris dan Prancis) untuk bertahan di sepanjang garis pantai yang diserang dan dibombardir tentara Jerman. Perlu satu hari untuk mengevakuasi mereka melalui laut. Dan satu jam bahan bakar yang diperlukan pesawat tempur spitfire Inggris untuk mencapai Dunkirk.

Lewat film ini kita mengenal satu catatan yang penting dalam sejarah Perang Dunia II. Sebuah momentum pertempuran dan penarikan pasukan besar-besaran, yang amat menentukan.

Sepintas, itu seperti sebuah kekalahan besar. Tapi sebetulnya tidak. Keberhasilan evakuasi itu diekspose besar-besaran oleh media sehingga melahirkan “Semangat Dunkirk” yang membahana, menggambarkan perjuangan dan solidaritas.

Nolan, dalam wawancaranya dengan sejumlah media, menyampaikan pandangan yang menarik mengenai peristiwa bersejarah itu.

“Ini momen penting bagi sejarah Perang Dunia II. Bila evakuasi itu gagal, Inggris Raya akan menyerah, dan seluruh dunia akan hilang atau menuju sejarah yang berbeda. Jerman pasti menaklukkan menguasai seluruh Eropa, dan Amerika Serikat tidak akan kembali berperang. Ini adalah saat yang menentukan. Keberhasilan evakuasi telah memungkinkan Churchill memaksakan gagasan kemenangan moralitas, yang membuatnya bisa menggembleng pasukannya seperti orang sipil dan memaksakan semangat perlawanan. Padahal, seharusnya urutan logis dari kejadian itu adalah penyerahan diri. Secara militer itu adalah kekalahan, tapi bagi kebanyakan orang, itu adalah kemenangan besar.”

Ini dideskripsikan dengan baik saat Tommy (Fionn Whitehead) dan Alex (Harry Styles) yang berhasil selamat sampai ke tanah airnya sangat khawatir akan sambutan publik atas penarikan besar-besaran itu. Tapi yang terjadi, mereka justru dielu-elukan sebagai pahlawan. Ini membangkitkan moral, bukan?

Tak heran cara bercerita yang unik ini membuat Dunkirk mendapat banyak pujian. Pun pendapatannya bikin ngiler.

Pada pekan pembukaan, sejak dirilis pada 21 Juli 2017, film ini meraup US$50,5 juta lebih dari ongkos produksi US$100 juta. Total sampai 31 Juli lalu, film ini sudah meraup US$236 juta lebih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *