Menyingkap Rahasia Pantai Pandawa Bali

Pantai rahasia atau secret beach, dulu begitulah nama Pantai Pandawa, Bali. Seiring waktu, keindahan pantai ini sudah bukan rahasia lagi. Dan ke sanalah saya pada awal Juli lalu, menuntaskan perjalanan liburan di Pulau Dewata.

Saya sudah membayangkan perjalanan ke Pantai Pandawa ini bakal memakan waktu yang sangat lama karena saya berangkat dari kawasan pegunungan Bedugul. Di Internet, menurut penuturan beberapa orang, perjalanan ke Pantai Pandawa akan melewati jalan berkelok-kelok dan macet karena dekat dengan kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Tapi ternyata tak begitu.

Saya tiba di pantai Pantai Pandawa sekitar pukul 15.00 WITA, setelah menempuh perjalanan dua jam lebih dari Pura Ulun Danu Beratan di Bedugul. (Tentang pura ini kalian bisa baca tulisan: Mengabaikan Kabut di Pura Ulun Danu Beratan)

Perjalanan agak tersendat saat memasuki Denpasar dan melipir sedikit ke Kuta. Itu karena lalu lintas yang padat akibat volume kendaraan.

Tapi begitu memasuki ruas tol Mandara dan keluar di Jalan By Pass Ngurah Rai, jalanan lancar jaya. Dari ruas tol ini ambil ke arah timur ke arah Nusa Dua, lalu tak jauh, berbeloklah ke kanan di perempatan jalan Pintas Siligita, ke arah selatan.

Susuri saja jalan ini lalu masuk ke jalan Kuruksetra yang kemudian menyambung jalan Dharmawangsa. Nanti akan ada penunjuk jalan ke arah Pantai Pandawa dan akhirnya kamu akan ketemu gerbang masuk yang besar.

Kami sekeluarga membayar Rp52.000 untuk karcis masuk lima orang (termasuk anak-anak) dan parkir kendaraan roda empat. Itu sudah dapat diskon karena mendaftar lewat tur.

Pantai Pandawa belum lama terkenal di antara turis yang berkunjung ke Bali. Sebelumnya, ia lebih dikenal sebagai secret beach oleh turis Australia. Sedang warga lokal menyebutnya Pantai Kutuh, sebab pantai ini memang berlokasi di Desa Kutuh Kabupaten Badung.

Kenapa disebut secret beach atau pantai rahasia? Mungkin karena ia tersembunyi di balik tebing besar dan tinggi. Begitu kita melewati tebing itu, akan langsung disuguhi pemandangan Samudera Hindia nan luas dan pantai yang cantik dengan pasir putih merentang jauh.

Dari bukit ini kita harus mengikuti jalan menurun dan berkelok. Di dinding bukit ditatah tulisan raksasa “Pantai Pandawa”, agak ke bawah kita menemukan relung besar berisi arca lima tokoh Pandawa: Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, serta pasangan kembar Nakula dan Sadewa.

Pengelola area parawisata di Pantai Pandawa juga sudah menyediakan sebuah lokasi untuk berfoto-foto, berlatar belakang tulisan “Pantai Pandawa” yang membelakangi pemandangan samudera Hindia. Ada parkir mobil yang cukup luas di sini.

Tapi kalau kamu hendak berekreasi ke pantai, ya harus turun lebih jauh ke area pantai yang disediakan untuk para wisatawan. Di sini ada fasilitas parkir, kamar mandi, area kuliner, dan wahana permainan air dan paralayang.

Satu hal yang bikin saya terkesima adalah Pantai Pandawa ini saat surut menyisakan semacam laguna yang dibatasi oleh batu karang. Kamu bisa menikmati laguna yang luas ini dengan kano.

Karena hari sudah sore dan malamnya kami harus kembali ke Jakarta, kami memutuskan untuk tidak berenang. Cukup menyewa satu kano untuk kami berempat (saya, Jasmine, Hanna, dan Yabes). Pemilik kano juga menyediakan pelampung untuk kami semua.

Ternyata kami masih bisa mengapung di kano itu lho. Mungkin karena yang bobotnya berat cuma saya. Hehehe. Sedang istri memotret kami dari bibir pantai berpasir putih itu.

Percayalah, mengayuh kano dan melihat laguna sejernih, setenang, dan sedangkal itu, godaan untuk menceburkan diri sangat besar. Apalagi celana juga jadi basah karena air yang masuk ke kano.

Anak-anak juga berkali-kali menggoda. “Ayo papa, nyebur aja, celana kita uda basah kok ini.” Hehe. Tapi berkali-kali pula saya memberikan pengertian, “Nak, kalau kita sampai basah, akan repot banget untuk mandi, ganti baju, dan segala macam, kita kan sebentar lagi ke bandara.”

Sore itu saya berjanji pada mereka dan juga diri sendiri, kalau ada kesempatan ke Bali lagi, Pantai Pandawa ini akan jadi tujuan utama kami. Kami akan menikmati waktu sepuas-puasnya dan menikmati berbagai fasilitas menarik yang ada di sana. Sabar ya.

Itulah cerita saya dari Bali. Lebih lengkap mengenai perjalan ke Bali, kalian bisa baca-baca lagi serial tulisan berikut. Tinggal klik saja ya.
Liburan Puas, Mending Ikut Tur atau Mandiri?
Air dan Ular Suci di Tanah Lot, Bali
Mengabaikan Kabut di Pura Ulun Danu Beratan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *