Mengabaikan Kabut di Pura Ulun Danu Beratan

Berkali-kali ke Bali, saya belum pernah bepergian sampai jauh ke utara. Pada saat kunjungan ke Bali dengan keluarga pada awal Juli lalu, akhirnya saya berkesempatan ke sana. Tujuan kami adalah Pura Ulun Danu Beratan.

Pura Ulun Danu Beratan terletak di kawasan pegunungan di Bedugul. Pura ini seharusnya kamu sudah kenal, sebab gambarnya ada pada lembaran uang pecahan Rp50.000.

Tapi berkunjung ke Pura Ulun Danu Beratan butuh strategi karena kebetulan cuaca sedang tak bersahabat. Pada kesempatan pertama, kami datang menjelang sore tapi gagal karena cuaca buruk.

Hujan deras dan kabut tebal membuat perjalanan yang sudah kami tempuh berjam-jam dari Tabanan, terpaksa disetop di tengah jalan.

Mobil saya putar balik dengan rasa kecewa. Tapi saya menetapkan hati untuk berkunjung keesokan harinya, pada pagi menjelang siang.

Keesokan harinya, saya dan keluarga berangkat pukul 07.00 WITA dari Pantai Sanur. Sekitar dua jam perjalanan, menempuh jarak hampir 50 kilometer menyusuri pinggiran Denpasar, tibalah kami di Pura itu.

Kami disambut udara yang sangat sejuk di ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut. Hujan gerimis yang diselingi hujan agak lebat masih turun. Begitu pun kabut tebal.

“Cuacanya memang begini tiga hari ini,” kata ibu-ibu yang menawarkan jasa penyewaan payung di dekat loket pembelian karcis masuk.

Kabut membuat pura dan Danau Beratan yang disucikan umat Hindu Bali itu, nyaris tak kelihatan dari areal parkir. Saya berharap, matahari yang beranjak ke atas kepala bisa memupus kabut hari itu.

Sambil menunggu hujan mereda dan kabut menipis, kami mencicipi sarapan di kios-kios makanan dan souvenir yang ada di areal parkir.

Secangkir kopi panas dan sepiring nasi campur khas Bali, cukup untuk menghangatkan perut dan membangkitkan kembali tenaga untuk berpetualang.

Menjelang siang, meski gerimis masih turun, kami memaksa masuk dan mengabaikan gerimis dan kabut. “Sudah jauh-jauh, masakan engga jadi masuk,” tutur istri saya.

Untungnya, beberapa waktu kemudian kabut mulai menipis sehingga wujud pura yang berdiri di tepi danau ini semakin jelas. Dengan membayar Rp20 ribu per orang, kamu bisa memasuki komplek pura ini.

Pura ini dibangun sekitar tahun 1633 dan merupakan pura yang penting dalam sistem pengairan di Bali. Sebab ia dibangun untuk memuja Dewi Danu, dewi danau dan sungai. Danau Beratan yang disebut Danau Gunung Suci adalah sumber utama pengairan atau irigasi di Bali tengah.

Di komplek ini, tepatnya di bibir danau, ada menara atau semacam pagoda, yang disebut pelinggi meru. Atapnya merupakan penggambaran gunung Meru dalam tradisi Hindu. Pelinggi meru di pura inilah yang terpampang jelas di lembaran uang pecahan Rp50.000 kita.

Pelinggi meru 11 tingkat ini didedikasikan pada Dewa Siva dan pasangannya Dewi Parvati. Untuk ke sana, para pemuja harus melewati air.

Ada banyak spot foto yang menarik di pura ini. Salah satunya adalah area dengan latar belakang pelinggi meru tadi.

Kalau waktunya tepat, kamu juga bisa menyaksikan saudara-saudara kita yang beragama Hindu sedang menggelar upacara.

Puas melihat-lihat areal pura, menikmati pemandangan danau yang bersih dan asri, serta pemandangan pegunungan yang menghijau royo-royo, kami pun melanjutkan perjalanan, jauh ke selatan, ke Pantai Pendawa yang sedang hits di Bali.

Cerita tentang Pendawa ini akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya ya.

Perjalanan saya sebelumnya ke Pura Tanah Lot, kamu bisa baca di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *