Air dan Ular Suci di Tanah Lot, Bali

Kalau kamu sering ke Bali, Tanah Lot pasti bukan destinasi yang asing. Tapi saya mau sedikit bercerita saja mengenai kawasan wisata yang populer di Bali ini. Mengenai Ular dan Air Suci yang bisa kamu temukan di sana. Itu satu hal saja sebetulnya, di samping banyak hal menarik di sana.

Kawasan wisata ini berada di Tabanan, sekitar 20 kilometer dari Denpasar. Di Tanah Lot, pusat perhatiannya adalah Pura Tanah Lot yang didirikan di sebuah batu karang besar. Pura ini, menurut catatan sejarah, dibangun oleh Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh agama Hindu, pada abad ke-16.

Dari Kuta, tempat kami menginap, perjalanan ke lokasi ini memakan waktu sekitar 1 jam karena lalu lintas yang lumayan padat dan banyak perempatan/pertigaan dengan lampu pengatur lalu lintas.

Sekarang ini tak usah bingung menuju ke sana. Kalau kamu menyewa mobil, pakai saja aplikasi peta di ponsel dan kamu akan dengan mudah menemukan lokasi ini.

Di gerbang masuk Tanah Lot kami membayar Rp65 ribu, sudah termasuk tiket masuk tiga orang (dua anak kami yang masih kecil tak dihitung) dan parkir kendaraan.

Perjalanan dari gerbang masuk sampai ke pantai, kamu akan menemukan banyak kios penjualan souvenir dan tempat makan. “Beli souvenir di sini bisa lebih murah ketimbang beli di pusat penjualan oleh-oleh Bali,” tutur seorang teman serombongan dalam tur, menyebut nama sebuah pusat penjualan oleh-oleh yang sangat populer di Bali.

Sesampainya di bibir pantai, aktivitas pertama jelas berfoto-foto. Banyak sekali orang yang berfoto bersama, atau selfie, dengan latar belakang Pura Tanah Lot atau debur ombak yang memecah di pantai karang.

Tak jauh dari pantai karang dengan ombak berdebur itu tampak Pura Tanah Lot yang berdiri mengangkang langit. Saat kami tiba, serombongan pria berpakaian putih-putih, saya menduga mereka adalah para rohaniawan, sedang berjalan ke arah pura. Mereka melewati perairan dangkal yang dalamnya sampai selutut. Sepertinya akan menggelar upacara, siang itu.

Selesai berfoto, permukaan air laut tampak surut sehingga kita bisa dengan mudah berjalan ke seberang, ke Pura Tanah Lot. Tapi sesampainya di sini, kamu tak bebas beraktivitas.

Kalau ingin masuk sedikit ke tangga yang diperbolehkan bagi pengunjung, kamu harus mengambil air suci dulu di pancuran yang ada.

Pancuran ini menarik karena ia memancurkan air tawar. “Cuci muka dan minumlah airnya tiga kali,” tutur seorang sosok rohaniawan di sana.

Saya, istri dan anak-anak menuruti pesannya. Kami hanya ingin berfoto di tangga naik dengan pemandangan laut lepas itu. Tak ambil pusing, benarkah air itu suci atau bisakah mengabulkan permintaan. Bak kata pepatah, di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung. Begitu saja.

Saya percaya, mendaraskan doa bisa di mana saja dan dikabulkan atau tidaknya, tergantung pada iman kita masing-masing.

Singkatnya, selesai mengambil air suci dan memberikan sumbangan sukarela, beberapa tokoh agama di sana memercikkan air ke kepala kami, menempelkan beras di kening, dan menyelipkan sepucuk bunga kamboja nan wangi di telinga.

Menyeberang kembali, kami tertarik mendekati sebuah liang dengan tulisan “Ular Suci”. Penasaran dengan sosok ular, kami pun mencoba masuk. Tentu dengan syarat, memberikan sumbangan sukarela dulu.

Rupanya, di dalam ada seorang pawang yang memegang ular laut itu, mengendalikannya, sehingga pengunjung bisa melihat bahkan menyentuhnya. Anak-anak saya bahkan tak takut menyentuh ular belang putih hitam dan berbuntut seperti ikan dari kelompok hewan yang disebut Hydrophiinae itu.

Menurut kepercayaan warga, ular suci itu adalah penjelmaan selendang poleng Dang Hyang Nirartha. Sosok yang disucikan ini mengubah selendangnya jadi ular berbisa itu untuk melindungi pura.

Sayang sekali, kami datang ke pura ini pada saat menjelang siang. Kalau datang menjelang petang, kita bisa menyaksikan pemandangan matahari terbenam yang indah sekali di sini.

Begitulah cerita saya dari Tanah Lot. Pada tulisan berikutnya, saya akan bercerita mengenai destinasi lain yang kami kunjungi di Bali, dalam kunjungan tiga hari dua malam. (kisah lain perjalanan ke Bali ini bisa kamu baca di: Liburan Puas, Mending Ikut Tur atau Mandiri?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *