Perlukah Wonder Woman Membantumu Mencinta?

Pertikaian di Timur Tengah. ISIS merajalela sampai ke Asia Tenggara. Bom bunuh diri di Kampung Melayu. Sebut saja lagi, ada deretan panjang kekacauan, perang, pertikaian, yang sedang melanda dunia ini. Benarkah Dewa Perang Ares sedang bergerilya dan apakah kita butuh kehadiran Diana Prince, sang Wonder Woman?

Berbagai peristiwa kekacauan di berbagai belahan dunia, termasuk yang baru terjadi di ‘halaman depan’ rumah kita di Kampung Melayu, sontak berkelebatan di benak saya, saat dialog demi dialog mengenai kekacauan dunia dan peran Dewa Ares mendominasi pembicaraan antara Diana (diperankan aktris cantik Gal Gadot), ibunya (dimainkan oleh Connie Nielsen), dan para ksatria Amazon di Themyscira.

Singkatnya, Diana yang mencintai kemanusiaan itu, rela meninggalkan Themyscira bersama Steve Trevor (diperankan Chris Pine), mengejar hasratnya menghentikan Ares yang dianggapnya sebagai penyebab kekacauan dunia. Untuk hanya kemudian sejenak menyadari bahwa kekacauan di dunia adalah perbuatan manusia sendiri.

Jenderal Erich Ludendorff adalah penyamaran Ares, menurut Diana. Sehingga dia mati-matian mengejarnya sampai ke garis depan pertempuran. Tapi saat Ludendorff bisa dibunuh, kekacauan tak berakhir dan dia menyadari Ludendorff bukanlah Ares.  Fakta ini sempat mengguncang hati Wonder Woman, merusak kepercayaannya pada Trevor yang disayanginya, dan membenarkan perkataan ibunya, bahwa dunia ini tak layak memilikinya.

Terombang-ambing dalam kemarahan, Wonder Woman kemudian bertemu dengan Sir Patrick Morgan, anggota Dewan Perang pada Perang Dunia I, sosok yang antiperang dan yang justru membiayai rombongan Diana-Trevor ke garis depan untuk menghentikan aksi Ludendorff dan Dr. Maru.

Sir Patric ternyata sang Ares sendiri. Lalu, sudah bisa ditebak, pertarungan besar pun terjadi, di antara upaya Trevor dan teman-temannya mencegah aksi pemusnahan massal yang hendak digelar Ludendorff. Trevor kemudian mengorbankan dirinya sendiri dengan meledakkan pesawat penuh gas beracun di udara.

Kematian Trevor membangkitkan kemarahan Wonder Woman dan Ares mendukungnya dengan menegaskan bahwa manusia memang pantas dihancurkan karena merekalah biang kerok kekacauan itu. “Manusia itu pada dasarnya korup dan tak perlu mendapat belas kasihan,” kata Ares.

Tapi belas kasihan mengalir di hati Sang Wonder Woman. Seharusnya dia bisa membunuh Dr Maru dan menimbulkan kehancuran lebih hebat. Tapi perkataan Trevor yang tak bisa didengarnya sebelumnya, terngiang. “Aku bisa menyelamatkan hari ini, tapi kamu bisa menyelamatkan dunia.”

Kematian Trevor dan pertarungannya dengan Ares membangkitkan kesadaran Diana akan hakikatnya sebagai putri Dewa Zeus dan saudari Ares sendiri. Dengan kekuatan itu, Ares bisa dikalahkan dan dihancurkan. Manusia memang menimbulkan kekacauan bagi dirinya sendiri, tapi memang begitulah hakikatnya. “Dan cintalah yang bisa menyelamatkan mereka,” kata Diana.

***
Terlepas dari berbagai kritik terhadap film yang dibesut Patty Jenkins ini, baik dalam hal teknis maupun kontennya, menurut saya, kita tetap bisa belajar banyak darinya. Terutama dalam menyikapi berbagai perseteruan, peperangan, kebencian, bahkan pembunuhan atas nama golongan, yang faktual dan kontekstual di sekitar kita.

Sudah lama saya mengamini bahwa cinta adalah jalan keluar untuk perdamaian dunia. Kenakanlah cinta pada sesamamu manusia, maka kau takkan bisa membenci sesamamu. Ketika kau tak membenci sesamamu, kau takkan berniat sedikitpun untuk mencederai atau melukai perasaaan bahkan tubuh sesamamu.

Cinta atau kasih itu apa sih? Secara sains penjelasannya ada. Tapi saya lebih suka mengutip perkataan Rasul Paulus di 1 Korintus 13: 4-8. Terlalu gamblang dan jelas sebetulnya. Tinggal diaplikasikan saja.

Jadi, kasih atau cinta itu: sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain,  tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran, menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung  segala sesuatu, dan sifat kasih itu tidak berkesudahan.

Coba deh cek, perasaanmu pada orang lain berdasarkan catatan di kitab Korintus tadi. Kalau sejalan, berarti kamu sudah mengasihi mereka.

Nah, masalahnya, siapakah sesamamu manusia? Ini nih yang kerap bikin resah. Padahal Yesus Kristus sudah menjabarkan dengan gamblang, siapa sesungguhnya yang harus kita kasihi. Lihat di Lukas 6: 27-36. Ini saya lampirkan saja lengkapnya ya. Beberapa saya highlight biar jelas.

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu. Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu?  Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu?  Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.  Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati,  sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

 

Foto: dok. http://dcextendeduniverse.wikia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *