Metafora ‘Iblis’ Logan Si Wolverine

“Seperti inilah rasanya.” Dan beberapa saat kemudian Logan mati.

Ada beberapa pertanyaan yang muncul di benak saya selama menonton film Logan, film yang terus terang terasa menyeramkan ya, lebih seperti film slasher horor ketimbang superhero.

Pertanyaan-pertanyaan muncul dimulai sejak film dimulai. Saya berusaha  menemukan kepingan-kepingan kisah serial X-men lain untuk memahami plot di film ini.

Tapi dialog terakhir ini menarik dan akhirnya jadi satu-satunya pertanyaan yang saya cari jawabannya secara serius. Mengapa James “Logan” Hewitt mengucapkan itu?

Seperti kita tahu, Logan meregang nyawa setelah dia ditusukkan ke sebatang pohon, dengan ranting tajam yang menembus perutnya, oleh X-24.

X-24 adalah mutan ciptaan Transigen setelah proyek X-23 gagal total. Sosok X-24 diciptakan sebagai kloningannya Wolverine.

Ia tampil sebagai Logan versi lebih muda (Dalam film yang mengambil setting tahun 2029, Logan digambarkan sudah renta, berusia sekitar 200 tahun, dan adamantium dalam tubuhnya mulai meracuninya)

Sebagai klon dengan sumber genetika Wolverine sendiri, X-24 ini memiliki kerangka berbahan adamantium, logam yang nyaris tak terhancurkan. Lengkap dengan cakar, yang mampu memotong hampir apa saja.

Pada film arahan James Mangold ini, saya merasakan sosok X-24 adalah sebuah metafora bagi Logan sendiri.  X-24 menggambarkan perlawanan terhadap sosok ‘iblis’ di dalam diri yang ingin dilawan Logan seumur hidupnya.

Dr Zander Rice dari Transigen merancang X-24 sebagai mutan yang memamerkan semua template genetika terkait kemarahan dan keganasan liar, tanpa kontrol diri. Ini adalah personifikasi dari pergulatan jiwa seorang Wolverine sejak semula.

Personifikasi dalam sosok yang nyaris tak terkalahkan, yang lebih muda, lebih lincah, dan lebih bertenaga.

Dengan mengalahkan X-24 dan kemudian menang, Logan akhirnya menyatakan pada dirinya sendiri bahwa akhirnya dia bisa merasakan sosok yang mengatasi kemarahan dan keganasan yang dirasakannya seumur hidup. “Seperti inilah rasanya.”

Berkaca pada satu tema ini, mungkin kita bisa belajar bahwa di dalam diri kita pun sebetulnya ada ‘iblis’ yang menggerogoti hidup kita.

Dan seumur hidup kita sebetulnya adalah pentas pertarungan. Sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas, lawan terberat kita sebetulnya adalah diri sendiri. Banyak yang kalah, tapi banyak pula yang menang.

Logan memerlukan seorang muda bernama Laura, anak biologisnya sendiri yang memiliki kemampuan nyaris sama dengannya (plus kuku tajam di kaki), untuk menembakkan pistol berpeluru adamantium ke kepala X-24 dan mengakhiri hidup sang metafora itu.

Selain bergantung pada Tuhan, kita mungkin memerlukan kemudaan kita, untuk membantu mengatasi ‘iblis’ di dalam diri kita, seperti yang dikatakan penulis Amsal: hiasan orang muda ialah kekuatannya (Amsal 20:29). Atau yang dikatakan pemazmur: Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda (Mazmur 127:4).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *