Reframing, Menenteramkan Pikiran

Bayangkan kamu dalam keadaan begini. Kamu sedang berkendara di jalan raya dengan tertib, tiba-tiba ada yang menyerobot jalurmu dengan seenaknya dan bikin kamu kaget karena hampir saja menyenggolnya.

Apa yang kamu lakukan? Kecenderungan kebanyakan orang yang saya perhatikan di jalan raya adalah naik darah, emosi.

Apalagi coba bayangkan kalau situasinya adalah: kamu sedang capai secara fisik karena kerja seharian, atau kamu berkendara di cuaca panas yang bukan kepalang, misalnya.

Saya pun punya kecenderungan itu. Tapi sejak saya mengenal konsep reframing, itu membantu saya mengatasi kejengkelan atau kemarahan dalam berbagai situasi.

Saya bukan ahli psikologi. Tapi saya coba cari kira-kira apa arti reframing itu. Sederhananya, reframing adalah mengekspresikan kata-kata, konsep, atau rencana, secara berbeda.

Kalau dalam konsep yang agak mendalam sedikit, reframing itu adalah tahan diri dulu saat menghadapi sesuatu, mundur sejenak, pahami situasi yang terjadi, lalu pikirkan sudut pandang yang berbeda.

Contoh reframing adalah: melihat permasalahan sebagai peluang, kelemahan sebagai kekuatan, kemustahilan sebagai kemungkinan yang masih jauh, tekanan (melawan kamu) sebagai sikap netral, sikap buruk sebagai kekurangmengertian.

Pada prakteknya, semisalnya saya dalam situasi seperti yang saya sebutkan di awal, saya akan berhenti sejenak dari kecenderungan untuk mengeluarkan sumpah serapah atau caci maki. Tarik nafas dalam-dalam. Lalu memikirkan kemungkinan kenapa si penyerobot itu berbuat seperti itu.

Biasanya, yang kemudian muncul dalam persepsi saya adalah: ohh dia mungkin buru-buru karena istrinya sebentar lagi melahirkan. Atau yang agak konyol, uhmm mungkin dia buru-buru karena kebelet berak.

Dann perasaan saya kemudian nyess… adem.

Konsep reframing ini terpikirkan lagi oleh saya saat melihat situasi panas akhir-akhir ini. Ada teman di media sosial yang kemudian menyebutkan kekhawatirannya bahwa Indonesia sedang menuju kehancuran seperti Yaman dan Suriah.

Kacau dan berbahaya kalau kita tenggelam dalam cara berpikir seperti itu. Bisa tersesat dan malah betulan kita jadi hancur kayak Suriah. Duh, coccoi-coccoi..jangannn

Saya pikir, itu terjadi karena seringkali kita ini terlalu dikuasai oleh pikiran-pikiran buruk. Akibatnya sulit untuk menangkap hal positif. Apa iya, engga ada yang positif, yang baik, di negeri ini?

Cobalah lakukan reframing untuk diri sendiri. Supaya pikiran sendiri adem dan tentram.

Keadaan bangsa yang panas seperti ini anggap saja seperti proses belajar dan peluang untuk kemudian jadi bangsa yang dewasa. Dewasa dalam berpolitik, dewasa dalam berbirokrasi, dewasa dalam penegakan hukum, dewasa dalam berdemokrasi, dan sebagainya.

Mungkin kita memang butuh semua kegaduhan ini untuk kemudian jadi bangsa yang lebih baik. Karena kemudian seluruh borok, yang selama ini terkubur oleh sebab sikap kita yang permisif dan alasan lainnya, sudah saatnya terbongkar dan sudah saatnya untuk disembuhkan.

Bukankah dalam proses penyembuhan luka itu perlu proses rasa-rasa agak perih dan kemudian gatal-gatal?

Tapi tolong dicatat, reframing di sini hanya untuk membantu kita menenteramkan pikiran kita lho ya. Bukan berarti reframing akan menyelesaikan persoalan yang sebenarnya. Semisal di jalan raya tadi, bukan berarti perbuatan serobot sana serobot sini itu dibenarkan.

Dalam konteks melihat situasi bangsa ini, bukan berarti reframing itu menyelesaikan masalah yang terjadi.

Saya pikir, ada porsinya lah untuk semua. Dalam proses berbangsa, sudah ada bagian-bagian yang berupaya untuk memastikan roda kehidupan bangsa ini berjalan untuk kebaikan semua orang. Ada bagian kita pula untuk melakukan segala yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga.

Seperti sistem organ tubuh manusialah. Sudah ada tanggung jawabnya masing-masing dan mudah-mudahan, endingnya adalah kebaikan untuk kita dan semesta ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *