Membuka Mata dan Berbelas Kasihan

Berbeda dengan jantung yang bekerja otomatis, mata kita ini berkedip dengan kontrol otak kita. Gerakan kelopak mata dan sebagian besar gerakan mata dikontrol oleh saraf yang ada di otak.

Artinya, membuka atau menutup mata berada dalam kontrol kesadaran kita sendiri. Begitupun dalam ‘melihat’ kenyataan di sekitar kita dan berbelas kasihan (compassion). Perasaan belas kasihan tak semata-mata urusan hati, tapi juga urusan otak.

Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh ilmuan di  Center for Investigating Healthy Minds di Waisman Center di University of Wisconsin-Madison.

Dalam proses penelitian, otak responden dipindai dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI), sambil mereka diperlihatkan gambaran mengenai penderitaan orang lain, mulai dari orang yang mereka kenal sampai orang asing. Begitu juga orang yang berkonflik dengan mereka.

Ketika seseorang melihat dan merasakan belas kasihan pada penderitaan orang lain, aktivitas otak di bagian inferior parietal cortex meningkat. Ini adalah bagian otak yang terlibat dalam urusan empati dan pengertian.

Bagian otak lain yang ikut bergerak adalah dorsolateral prefrontal cortex dan nucleus accumbens, kawasan otak yang berkaitan dengan pengaturan emosi dan emosi positif.

Kesimpulan tim peneliti, belas kasihan atau compassion sebetulnya bisa dibangkitkan dan dilatih. Tapi kuncinya ada pada proses melihat orang lain di sekeliling.

Pada perjalanan Yesus Kristus berkeliling kota dan desa untuk mengajar dan menyembuhkan orang-orang sakit yang datang padaNya (Seperti dikisahkan di Matius 9:35), Dia melihat penderitaan besar yang dialami oleh orang banyak itu. Tidak hanya penderitaan fisik, tapi juga mental. Mereka itu ‘kelelahan dan terlantar’.

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Matius 9:36).

Bagaimana dengan kita? Secara manusiawi, otak kita ini mampu lho membangkitkan belas kasihan terhadap orang-orang yang menderita lahir maupun batin di sekitar kita. Kuncinya adalah kemauan kita untuk membuka mata dan melihat semuanya. Tidak abai atau malah berpura-pura dan sengaja tidak mau melihat.

Dari belas kasihan bisa timbul gerakan dan aksi untuk berbuat sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *