Melakukan Perubahan Radikal, Kenapa Tidak?

“Sudah tradisi.” “Itu kebiasaan umum”. Seberapa sering kita mendengar kalimat ini menjadi alasan untuk melakukan sesuatu? Bahkan dalam praktek keagamaan di ruang-ruang ibadah yang sakral, kalimat seperti itu sering dijadikan alasan, bukan?

Saya ingat, dulu ketika masih kuliah, saat liburan saya mudik. Kemudian pada hari minggu saya pergi beribadah ke gereja saya yang dulu.

Sebagai perantau yang kemudian beribadah di gereja yang baru, sudah pasti ada harapan terjadinya perubahan yang besar dalam cara jemaat di gereja lama saya beribadah. Terutama dalam hal menyanyikan pujian.

Sejak saya kecil saya menyadari ada ciri khas jemaat di gereja itu dalam bernyanyi. Semua lagu dinyanyikan dalam tempo yang sama. Tempo lambat. Tapi waktu itu pengetahuan saya soal musik gereja masih sangat sedikit.

Pada hari Minggu itu saya berharap ada perubahan. Sebab, setelah kuliah di Depok dan menjadi bagian dari persekutuan mahasiswa kristen di kampus, saya banyak belajar bagaimana menyanyikan pujian kepada Tuhan yang benar. Sesuai not dan temponya.

Tapi saya kecewa sekali. Saya menyadari pemain organ ternyata sudah berusaha untuk sesuai dengan catatan di buku lagu. Intro sudah pas temponya. Tapi ketika sudah mulai bernyanyi, balik lagi ke tempo yang sama. Duh! Gemas sekali rasanya. Tapi siapa saya bisa meminta perubahan terjadi saat itu juga?

Bertahun-tahun kemudian, mama yang masih beribadah di sana bercerita, keadaan sudah jauh berbeda. Lagu sudah dinyanyikan sebagaimana tempo yang seharusnya. Puji Tuhan! Bagi mereka yang mendorong melakukan perubahan itu.. dua jempol untuk kalian!

Begitulah! Menggebrak tradisi adalah sebuah keniscayaan ternyata. Yesus Kristus sudah menunjukkan teladan pada kita semua. Dia tak takut menyodorkan perubahan tradisi keagamaan waktu itu, meski itu terkesan sangat radikal.

Kisah di Matius 9:1-17 memberikan kita gambaran lengkapnya.

Ini kisah saat Yesus menyembuhkan seorang lumpuh. Kemudian dia makan bersama Matius, seorang pemungut cukai, dan orang-orang lain yang digolongkan orang berdosa. Terakhir, murid-murid Yohanes Pembabtis menegurNya karena murid-muridNya tidak berpuasa sebagaimana mereka dan kaum Farisi.

Waktu itu Yesus mengatakan bahwa dosa seorang lumpuh sudah diampuni, tapi ahli Taurat kemudian menuding Yesus menghujat Allah. Ketika Yesus makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa, dia dicela. Sikap murid-murid Yesus yang tak berpuasa juga dicela.

Yesus menjawab semua celaan itu dengan mengatakan bahwa Dia datang memang untuk membawa perubahan. Yesus itu mampu mengampuni dosa dan menyembuhkan. Dia memang datang ke dunia untuk orang-orang berdosa. Dan dia menyatakan, selama Dia bersama dengan murid-muridNya, itu adalah saat untuk perjamuan dan bukan puasa.

Yesus menunjukkan bahwa praktik beragama seharusnya berpusat pada Tuhannya, bukan pada tradisinya.

Dunia saja berubah dan zaman yang baru akan selalu datang menggantikan yang lama. Masakan kehidupan beragama kita begitu-begitu saja? Atau, apakah kita tergolong orang yang antipati pada apapun yang namanya perubahan?

Jangan sampai kita jadi seperti kain lama atau kantung anggur tua, yang akan sobek dan hancur lebur, kalau tak mau berubah untuk menerima kain dan anggur yang baru. (Matius 9:16-17)

One thought on “Melakukan Perubahan Radikal, Kenapa Tidak?

  1. Pingback: Saya Tidak Terdampar di Sekolah Theologia | Bang Ded

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *