Swing Voter dan Krisis Kepercayaan Kita

Kalau memperhatikan hasil survei-survei pemilihan kepala daerah, maka kita akan melihat selalu ada pemilih mengambang alias swing voter. Mereka belum menentukan pilihan, siapa kandidat yang akan mereka coblos nanti.

Profilnya macam-macam. Ada yang memang belum pernah ikut mencoblos (mungkin pemilih pemula), kalangan independen, atau kalangan yang memang belum memutuskan untuk memilih siapa.

Salah satu penyebab timbulnya golongan ini, menurut saya, adalah karena krisis kepercayaan, khususnya pada mereka yang belum memutuskan. Macam-macamlah alasannya.

Krisis kepercayaan juga bisa terjadi dalam hidup beragama. Kita merasa tak berharga, Tuhan sepertinya jauh dan tak menjawab doa-doa kita. Atau karena kita kecewa dengan gereja, gembala, dan sebagainya.

Lebih parah lagi ketika kemudian dihadapkan pada pilihan (seperti di ruang-ruang pencoblosan itu) kita memutuskan untuk tak ‘mencoblos’ Tuhan, tapi ‘mencoblos’ dunia dan Mamon.

Bagaimana kalau kita mengalami krisis kepercayaan pada saat-saat yang krusial, teramat penting? Berabe.

Karena itu contohlah perwira Romawi yang datang kepada Yesus Kristus di Kapernaum. Kisahnya adalah kombinasi antara kasih dan kepercayaan yang luar biasa.

Matius 8:5-6
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.  

Saya yakin sekali, perwira ini adalah seorang yang baik. Dia mengasihi hambanya yang jatuh sakit jadi lumpuh itu. Dia sedih sekali melihat melihat hambanya menderita.

Ketika mendengar Yesus datang, sang perwira bergegas menemuinya, sebab Yesus ini dikenal sebagai sosok yang mampu menyembuhkan.

Si perwira percaya pada kuasa Yesus. Dan yang lebih hebat lagi, dia tak sekadar percaya melainkan beriman luar biasa. Sebab ia kemudian berkata:

“Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh (Matius 8:8).

Si perwira tahu, mengundang seorang Ibrani ke rumahnya adalah sesuatu yang tabu. Dan dia beriman, dengan sepatah kata saja, hambanya sembuh!

Dan itulah yang terjadi. Yesus memuji iman sang perwira dan menyindir kaum Yahudi yang justru malah krisis kepercayaan kepada Sang Mesias yang sudah datang.

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini  tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel. (Matius 8:10)

Bagaimana dengan kita? Di hadapan Tuhan janganlah menjadi ‘swing voter’ yang krisis kepercayaan. Kita ini sedang berpacu dengan waktu dan krisis kepercayaan itu hanya akan membuat kita membuang-buang waktu dan kesempatan yang berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *