Puisi untuk Aceh (Nyanyian Kematian Pagi Hari)

Dulu pernah menulis puisi tentang Aceh yang dilanda gempa dan tsunami mengerikan. Barangkali masih relevan dengan bencana gempa bumi dini hari tadi. Satu yang pasti, bencana selalu mendatangkan pedih di hati. Hanya saja, jangan pernah memupus harapan diri.

Saya ikut berduka dengan kalian, saudara-saudaraku. Tabahlah. Semangatlah

===

Nyanyian Kematian Pagi Hari

Pagi itu maut bernyanyi
Di utara dan di barat
Aromanya anyir
Mencium ujung nyiur yang berhenti bergoyang
lantaran kehilangan akar berpijak

Nyanyian maut adalah lagu duka
Anak-anak kehilangan ibu dan bapak atau orang tua yang kehilangan anak
Sanak dan handai tercerai berai

Lagu duka, nyanyian pagi itu
Pagi itu, tak perlu berlama-lama

Luluh lantak negeriku
Perang mesiu tak membuatnya luluh
anyir darah pertempuran belum pernah membuatnya menyerah

Tapi hempasan air sekejap
sudah cukup membuatnya lumat
Pagi cerah telah berubah menjadi laknat

Ratusan ribu jiwa terhempas
Negeri kita dan negeri mereka
Tubuh-tubuh dikerubung lalat

Satu demi satu luluh dan menjadi tiada
Berpulang ke bumi, tempatnya lahir
dan tempatnya terbunuh

Ah Tuhan,
Andai saja aku mengerti
apa yang ada di dalam hatiMu
Sehingga Dikau membiarkannya begitu
Tiada Tuan mencegah ombak itu
atau setidaknya menghelanya ke tempat nan jauh

Tuan biarkan dia bersandar
di pelabuhan hati kami yang kini terkoyak

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak
berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang
tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari
kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku.
ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki
rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.
(Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)” (Habakuk 3: 17-19)

Aku berharap
Bencana itu tak membuang jauh harapku padaMu
luka-luka itu tak memupus impianku
Bahwa, meski bencana ada padaku
Aku tetap percaya padaMu
Aku tetap percaya padaMu
Bahwa Dikau tak memberi cobaan yang melebihi kekuatan kami

7312, kantorku, 6 Januari 2005.

 

=======

Foto: Pixabay/Angelo_Giordano

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *