Hinalang dalam Kisahku

Dulu sudah pernah kuceritakan tentang rumah tempatku tumbuh dan besar
Rumah yang wujudnya sudah susah kugambarkan padamu
Sebab ia sudah lenyap
Ia sudah membekas jadi kenangan sahaja.
Dihantam air bah yang marah
Setahun yang lalu.
Ia rumah di Siantar, yang sejuk (entah sekarang)

Sekarang tiba-tiba aku teringat cerita lain
Dari kenangan masa kecilku.
Sebuah kampung di pegunungan Simalungun.
Tempat kelahiran orang tuaku (sekarang menjadi tempat kelahiranku, gara-gara salah tulis di STTB waktu SD) — Aku sebenarnya lahir di Medan.

Tapi bukan soal tempat kelahiran yang penting. Soal bagaimana kampung bernama Hinalang itu membentuk
cerita-cerita masa kecilku, yang ingin kuceritakan padamu.

Hinalang.. ada yang menyebutnya Kinalang.
Menujunya membutuhkan waktu berjam (dulu) dengan berjalan kaki dari simpang jalan raya..
Sekitar 2 kilometer jauhnya dari jalan raya kabupaten Simalungun.
Di kanan kiri jalan adalah perladangan dengan bau tanah dan rumput yang tak bisa kulupakan.
Di tengah perjalanan kau akan menemukan sebuah gereja.
Dulu gereja ini dibangun dengan kayu yang kokoh. Sekarang ia sudah lebih megah.
Dengan tembok-tembok kokoh yang dingin. Sayang, batu dan semen tak sehangat kayu dari masa lalu.
Tapi warga desa itu lebih suka tembok daripada kayu. Mungkin itu gara-gara modernisasi.
Kalau saja mereka menyadari bahwa kayu itu lebih eksotis
Sehingga tak merobohkan gereja kayu, juga rumah-rumah panggung kayu mereka dulu.
Barangkali Hinalang takkan seperti sekarang.

Tapi jujur, aku tak tahu Hinalang yang sekarang yang penduduknya sudah makin banyak berisi pendatang
 
Hinalang dari masa kecilku, begini kisahnya.
Ketika kakek dan nenek masih hidup. Aku memanggil mereka Ompung dan Inang. 
Dari rumah kayu berpanggungnya di sudut barat, di bawah pohon beringin yang besar.
Saban pagi, bau kayu terbakar di perapian dapur akan membangunkanku
Yang melamun mimpi di atas tikar rotan tua.
Di sana Inang sudah duduk menunggui periuk dan kuali.
Wangi beras merah yang mendidih sangat menggoda.
Biasanya, aku kecil akan langsung duduk di pangkuannya, dengan manja.
“Inang masak apa?” kataku, merapatkan kepalaku di dadanya yang hangat.
Pelan tapi pasti, tubuh pun ikut menghangat karena api perapian.
“Ini lagi menggoreng ikan teri,” katanya.
Kau tahu, ikan teri goreng yang disambal dengan cabe hijau buatan Inang, adalah sajian khas
yang tak pernah juga kulupakan rasanya.

Lalu dia akan menciduk air tajin dari beras merah yang mendidih di periuk. Mencampurkan gula, mengaduk, lalu mengangsurkannya padaku. Sarapan pagi itu, secangkir tajin enak, diolah dari beras merah hasil sawah Ompung dan Inang. 

Selanjutnya, dia akan menyuruhku menjemput Ompung di warung kopi. Entah itu tradisi atau bukan. Biasanya, Ompung dan kaum laki-laki dewasa di desa itu selalu berkumpul di warung kopi. Sekadar menikmati obrolan pagi, sebelum beranjak ke sawah atau ladang.

Kulihat di sebuah meja di warung yang sederhana, Ompung sedang berbincang dengan beberapa orang.
O iya, Ompung ku yang sudah tua, sangat dihormati di sana, sebab Ompungku adalah Kepala Kampung.
Biasanya, dan selalu begitu, Ompung akan memintaku menyalami teman-teman mengobrolnya dan memperkenalkanku kepada mereka. “Sudah besar ya anak si Nukman ini,” begitu kata mereka, menyebut nama papaku, anak sulung Ompungku.

Biasanya pula, mereka masih punya hubungan saudara denganku, entah dari Ompung, atau dari mamaku.
Ketika nanti ketemu dengan mereka lagi, aku akan bersusah payah mengingat siapa mereka dalam silsilah keluargaku. Aku mengaku kalah, kalau sudah bicara soal mengingat silsilah dan keluarga ini. “Ini Tulang atau Ompung atau Mangkela ya?” kataku selalu, di dalam hati, sambil malu-malu.

Setelah Ompung tiba di rumah, yang terletak di pojok desa, di bawah sebuah pohon beringin besar, kami akan bersiap berangkat ke ladang. Arahnya, bisa ke timur atau ke barat, tergantung mana sawah atau ladang yang akan digarap hari itu. Aku biasanya tak bisa menebak.

Suatu ketika mereka mengajakku ke ladang yang jauh, ke arah timur, menyongsong matahari. Bapanggiku, Syamsul Sinaga namanya (Sekarang dia sudah tinggal di Depok), akan langsung menjemput kerbau dan memasang kuk-nya di gareta. Semacam dokar di Pulau Jawa.

Di gareta itu perjalanan lambat tapi pasti dimulai. Kadang kudengar bapanggi ku itu berteriak, sesekali ia melecut si kerbau dengan bambu tipis. Tapi hanya sedikit kecepatan bertambah. Selebihnya lambat. Tapi asyik. Sering aku tertidur lagi di dalam bak gareta. Udara sejuk dan angin sepoi sungguh menggoda mata untuk kembali memejam.

Suatu ketika, bapanggi Syamsul (Kau tahu, ini bapanggi yang paling dekat denganku. Papaku punya tiga adik laki-laki –orang Simalungun menyebutnya bapanggi, satu namanya Amir dan satu lagi Anus. Keduanya kini sudah almarhum.) mengajakku menggembalakan kerbau di ladang Ompung yang berada dekat gereja yang kuceritakan tadi.


Setelah tali kerbau ditancapkan ke tanah, bapanggi membantu ompung di ladang. Sementara aku kecil dibiarkan bermain-main dengan si kerbau. Kau tahu, biasanya aku tak takut dengan si kerbau dan suka menungganginya, meski tak berani sendiri. Biasanya dengan si bapanggi.

Saat itu, aku iseng menggoyang-goyangkan tanduk si kerbau saat dia sedang makan rumput. Eh, si kerbau rupanya tak suka. Dia pun langsung menandukku, tepat di perut. Aku terlempar. Setelah itu aku gemetar ketakutan sambil menahan sakit di perut, yang untungnya tak terluka. Tak kuceritakan kejadian itu pada siapapun, sampai saat ini. Baru kau yang tahu. Sejak itu, aku tak suka kerbau itu.

Aku juga teringat, bapanggi itu pernah mengajakku ke hutan dan memetik markisa masam dan yang manis. Pernah juga dia mengajakku menjerat burung pipit.

Aku juga punya Tulang kandung. Tulang itu adalah adik mama yang laki-laki. Dengannya pun aku suka diajak pergi ke ladang, ke sawah, atau ke hutan untuk memetik buah dan berburu babi. Pernah dia membuatkanku sarang burung dari batang sanggar, semacam tumbuhan ilalang.

Pernah juga dia datang ke Pematang Siantar, tempatku bersekolah, dan mengantarkan burung Ambaroba atau Cucak Rawa yang ditangkapnya sendiri, untuk kupelihara. Juga suatu ketika dia mengantarkan burung kenari, yang juga dijeratnya sendiri. Tulang itu tahu aku senang memelihara binatang, meski kurang telaten. Kecuali anjing, aku kurang rajin merawat binatang yang lain.

Tulang Maruli, begitu aku memanggilnya. Kelak setelah dia menikah dan punya anak, aku memanggilnya Tulang Bona, seperti nama anak pertamanya. Sekitar setahun yang lalu Tulang ku itu pun wafat dalam usia yang relatif muda, menurutku.

O iya, kau perlu tahu Ompung dari mamaku. Aku tak terlalu mengenalnya karena dia wafat tepat sebelum aku masuk SD. Tapi aku mengenalnya sebagai orang pintar, yang didatangi orang-orang untuk berobat. Ketika dia sudah tiada, Tulang Maruli beberapa kali memperlihatkan totem atau patung kayu yang disimpan ompung di dalam peti besi. Aku tak tahu di mana peti dan isinya itu sekarang. Sejak belajar dan lulus sebagai sarjana Arkeologi, aku tertarik untuk memintanya dan menyimpannya sebagai barang antik. Tapi tak pernah kuutarakan niat itu, bahkan sampai Tulang itu wafat.

Di Hinalang pun dulu selalu ada pesta panen. Biasanya kami sekeluarga Ompung dari papa akan berangkat pagi-pagi ke sawah di lembah yang tak terlalu jauh dari kampung. Di sana para dewasa akan memanen padi, sementara anak-anak akan bermain-main di sawah atau bondar, sungai kecil di tepi persawahan. Setelah panen selesai, kami akan menangkap ikan mas yang dipelihara di sawah. Ikan yang tertangkap akan dibakar dan dinikmati dengan bumbu bur-bur yang agak pedas, saat makan siang. Nikmat sekali.

Kalau Natal, orang Hinalang akan berkumpul di gereja yang kuceritakan tadi. Kami akan menikmati syahdu suasana natal dengan pohon pinus yang ditebang dari hutan dan dihiasi lilin-lilin, serta berpenerangan lampu petromaks. Maklum saat itu listrik belum masuk ke desa Hinalang.

Ketika Paskah, pada hari Minggu jam 03.00 kami akan berduyun-duyun ke pekuburan dengan membawa obor, senter, dan petromaks. Di sana pendeta sudah menunggu dan kebaktian paskah akan dimulai, di tengah suasana gelap dan udara yang sangat dingin. Tapi aku tak pernah takut pada pekuburan.

Masih ada banyak cerita dari desa Hinalang yang kukenang. Tapi sulit rasanya mengungkapkan satu per satu. Desa itu memang bukan tempatku lahir dan tumbuh besar. Tapi di sana, jejak-jejak masa laluku terawat benar. Paling tidak dalam ingatan yang sabar.

Kantorku – 7312
  

6 thoughts on “Hinalang dalam Kisahku

    • A. Karno Purba Reply

      horas lae, cerita lae mengingatkan sebagian perjalanan hidupku di desa Hinalang, aku lahir di hinalang dan beberapa nama yang lae tuliskan sangat ku kenal, alm. Lae Anus (bandung), abang Maruli (cikampek), Lae Samsul Depok, mudah-mudahan tidak salah..

      • deddysinaga Post authorReply

        Wah terima kasih.. Tulang. Iya, mereka itu tulang dan bapanggiku. Pasti kenal dong sama bapakku, Nukman Sinaga? Apa kabar Tulang. Tinggal di mana Tulang sekarang?

  1. Pingback: Cerita Natalku di Kampung Berselimut Kabut - Bang Deds

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *