Puasa

PUASA

Aku bisa mengerti
bahwa di masa-masa ini
kalian membutuhkan
masa untuk memikirkan diri sendiri
Tapi mengapa justru terasa seperti
mementingkan dan membenarkan diri?

Kau usir kami di balik tirai
kau hela kami ke balik dinding
mengkerut badan
jelalatan mata mencari kesempatan
menghindar
Hanya untuk menikmat
sesuatu yang kami cari sendiri
bukan yang kami curi

Kami ini ibarat pelanduk
tersuruk di balik rimbunan semak
menyembunyikan diri
dari pemangsa..
seperti ketakutan yang sia-sia
Padahal kami ini sebuah eksistensi
seperti kalian juga

Toleransi, katamu
Bukannya kami tak mengerti
Apakah itu senyatanya toleransi
bila kalian memaksa kami
membungkam diri?

“Enyahlah setan-setan
agar kami kusyu berpuasa
Enyahlah kafir-kafir
agar kami meraih kemenangan”

Bukankah kejahatan terjahat ada di dalam diri kita sendiri?
Dia bernama “Akal budi”
yang membuatmu dan kami berbeda dengan binatang
yang hanya punya naluri
Atau tetumbuhan
yang hanya punya hasrat tumbuh alami

Akal budi adalah senjata terkuat
sekaligus titik pertahanan terlemah
bukan musuh dari luar
si setan dan si kafir, kawan!

Maafkan bila aku sedikit menikmati
anugerah makananku siang ini
Sebab cukup sudah aku bersembunyi
seakan munafik, lapar seakan kenyang
padahal aku menatap makanan itu
dengan hasrat tertahan..

Pandanglah aku
menceracap
mendecap, dan
mengecap
kalahkan akal budimu
aku yakin
bagimu tersedia
puasa senyatanya puasa

-camar-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *