Diam

Diam

Di rembang senja kutepekur
menatap siang yang beranjak tidur
Peraduannya memerah
Langit memudar
pada malam yang menjemput

Tepekurnya aku pada Cinta
yang membawaku kepada keajaiban
Memandang ke belakang lalu bertanya
“Mengapa?”

Rembang senja menjemput malam
Penanda berakhirnya sebuah masa
Besok menjelang yang silam
Di sinilah aku
Menatap perjalanan itu
Bagai tak percaya
Lalu ber-asa, mudah-mudahan berakhir segera

Tapi itulah kawan
Menghentikan masa bukanlah keahlianku
Perjalanannya, dari sejarah menjadi masa depan
adalah sebuah niscaya tanpa henti

Barangkali aku membutuhkan sebuah deja vu
Perjalanan tanpa henti menafikan yang lalu dan esok

Agar Cinta yang ajaib ini
Dapat kunikmati tanpa ragu

Biarlah kumiliki semua cinta ini
walaupun aku bagai bersembunyi
antara petang dan gelap
Antara binar-binar semata
dan yang senyatanya kureguk
Bersama pelukan tak lekang
Cintalah ini, kuyakinkan hati

7312, suatu pagi di Velbak 19 November 2005

One thought on “Diam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *