Nyanyian Kematian Pagi Hari

Nyanyian Kematian Pagi Hari

Pagi itu maut bernyanyi

Di utara dan di barat

Aromanya anyir

Mencium ujung nyiur

yang berhenti bergoyang

lantaran kehilangan akar berpijak

Nyanyian maut adalah lagu duka

Anak-anak kehilangan ibu dan bapak

atau orang tua yang kehilangan anak

Sanak dan handai tercerai berai

Lagu duka, nyanyian pagi itu

Pagi itu, tak perlu berlama-lama

Luluh lantak negeriku

Perang mesiu tak membuatnya luluh

anyir darah pertempuran belum pernah membuatnya menyerah

Tapi hempasan air sekejap

sudah cukup membuatnya lumat

Pagi cerah telah berubah menjadi laknat

Ratusan ribu jiwa terhempas

Negeri kita dan negeri mereka

Tubuh-tubuh dikerubung lalat

Satu demi satu luluh dan menjadi tiada

Berpulang ke bumi, tempatnya lahir

dan tempatnya terbunuh

Ah Tuhan,

Andai saja aku mengerti

apa yang ada di dalam hatiMu

Sehingga Dikau membiarkannya begitu

Tiada Tuan mencegah ombak itu

atau setidaknya menghelanya ke tempat nan jauh

Tuan biarkan dia bersandar

di pelabuhan hati kami yang kini terkoyak

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak

berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang

tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari

kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di

dalam Allah yang menyelamatkan aku.

ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki

rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.

(Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)” (Habakuk 3: 17-19)

Aku berharap

Bencana itu tak membuang jauh harapku padaMu

luka-luka itu tak memupus impianku

Bahwa, meski bencana ada padaku

Aku tetap percaya padaMu

Aku tetap percaya padaMu

Bahwa Dikau tak memberi cobaan

yang melebihi kekuatan kami

7312, kantorku, 6 Januari 2005. Untuk bencana tsunami di Aceh dan SUMUT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *