Mengapa tadi malam kamu datang lagi

Meskipun itu hanya lewat mimpi?

Jujur, kenangan itu tiba-tiba membuncah

membanjiri seisi hati, dan sulit kutahan

membuat seisi kamar ingatanku basah dengan hadirmu

kenangan tentangmu, cerita tentangmu, tawamu

tangismu (dulu sekali), candamu, keringatmu (yang kuhapus dengan ujung jariku)

pintamu (yang manja itu), kerinduanmu (dulu juga).

Aku tak tahan (maaf, jangan bilang-bilang suamimu atau istriku)

Sepanjang hari, kesedihanku tumpah

harapku setitik tiba

tapi tak hendak menguap

meski kupanasi dengan kehangatan cinta yang lain

Mengapa tadi malam kamu datang

meski itu hanya lewat mimpi?

Duh, bersalahnya hati

ketika cinta masa lalu

menjadi temanku hari ini.

Istriku, maafkan suamimu

meskipun kau mestinya mengerti

ini hanya soal selembar kenangan

tak lebih

Karena berdosa bila aku menyiram lagi

bunga hati yang sudah kucabut

karena engkau tahu

sisa akarnya itu tak ingin kubelai

Mengapa engkau datang lagi

meskipun itu hanya lewat mimpi tadi malam?

Karena bila tidak, takkan kutuliskan ini

7312, kantorku 24 September 2004. 20.38 WIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *