Gugur Bunga

Gugur bunga di haribaan bumi, kemarin

Ku dengar kabar itu

sepintas namun menusuk jiwa

seorang kawan telah pergi

Engkau tak mengenalku dekat

jauh pun mungkin tidak

Namun namamu akrab bagiku

Apalagi perjuanganmu

Ketika engkau memilih

bersenggama dengan peluru

darah, air mata, dan derita orang lain

sedang deritamu, tak pernah kau bagi

barang sejumput

biar pun bagai ciuman sekilas

Kawan..

Kemarin berakhir hidupmu

Tak ada air mata di pipiku

Sudah kering telaga mata itu

Diteriki mentari negeri ini

karena masih terlalu panjang kawan

jalan yang harus ditempuh

meski sudah banyak jejak kakimu di situ

Negeri ini menangis

karena derita kaum penderita

belum juga berakhir

pun kian lara

saat bunga itu luruh

di tengah rumpun yang belum jadi

Terlalu cepat kawan

terlalu cepat kau tinggalkan

ranting dan batang, tempat kau menata pengharapan itu

harap mereka belum tumbuh sempurna

asa mereka belum bertunas ceria

>>sejak kemarin aku berpikir, tega nian engkau!>>

Meski begitu,

selamat jalan kawan..

mungkin bukan cuma aku,

namun itu ada mereka dan mereka

yang akan meneruskan jejak kaki itu

sampai perjalanan ini berhenti

di titik, saat langit dan bumi tiada

di titik saat cakrawala tempat kami berdiri

Untukmu ada nyanyian angin

menghembuskan wangimu

yang tak lekang meski kau luruh sebelum kembangmu dewasa

ada paduan suara bambu

mengiringi engkau pulang..

Selamat jalan kawan

untuk Munir yang meninggal kemarin, kantorku 12.30 WIB, 8 September 2004 7312

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *