Dari Bali Bersama George Bush

Denpasar – Luar Biasa! paranoid! itulah kesan yang bisa disimak saat kedatangan Presiden Amerika Serikat George W Bush ke Denpasar, Bali, Rabu (22/10). Kunjungan sih cuma tiga jam, tapi pengamanannya itu, ALAMAK!

Contoh saja untuk wartawan. Total ada empat titik pemeriksaan yang mesti dilewati mulai dari luar komplek Bandara Ngurah Rai hingga ke Hotel Patra Bali yang tak jauh dari bandara. Bandara sendiri nyaris “tertutup” untuk umum sejak pagi.

Pemeriksaan awal jadi miliknya polisi lalu lintas. Dilakukan di pertigaan jalan raya menuju Bandara. \”Mau kemana mas? oh wartawan,\” kata seorang Polisi. Tak jauh, giliran puluhan anggota Gegana Polda Bali yang ambil alih. Tak cuma isi tas dan pemeriksaan badan, tapi sampai bagasi motor pun tak luput dari penciuman polisi.

Di gerbang Hotel, ada pemindai logam dan pemeriksaan isi tas yang ke dua kalinya. Sampai disini, perlu tanda pengenal khusus yang dikeluarkan oleh sekertariat Presiden RI dan tanda pengenal khusus dari pemerintah Amerika Serikat. Bila lolos, sebuah stiker putih kecil bertuliskan //\”security checked paspampres\”// pun ditempelkan di tas bawaan. Nafas bolehlah sedikit lega, pasalnya kemudian ada jamuan santap pagi kecil-kecilan di restoran. Lumayan melepas lelah, sehabis bekerja tak putus sejak kemarin.

Tak lama sekitar pukul 10.00 WITA, sejam sebelum kedatangan Bush, para wartawan pun digiring menuju tempat \”karantina\”, sebuah bungalow kecil di bagian barat komplek. Tepat di depannya terbentang pemandangan lautan lepas

Tapi tunggu dulu, sebelum “Istirahat” di bungalow berlabel //\”press pool\”// itu, wartawan harus melewati dua pemeriksaan lagi. Pertama, mencocokan nama, foto, dan data yang dimiliki petugas keamanan Amerika yang berasal dari pasukan //Secret Service// (SS). Kedua, mengulangi tindakan pertama sesaat sebelum melewati pemindai logam dan pemeriksaan badan satu-persatu.

Sebelumnya seluruh bawaan sudah dipisahkan ke satu tempat dan diendus oleh beberapa ekor anjing milik pasukan SS. Rupanya label security checked itu tak ada gunanya. Seorang anggota paspampres sempat berkeluh kesah. \”Kesannya mereka tidak percaya dengan kita,\” kata dia dengan mimik serius. Betapa tidak, ditengah terpaan panas yang menggigit dan keringat yang mengucur deras, petugas lokal hanya kebagian tugas mengamati thok.

Ditengah pemeriksaan, seorang anggota SS, sempat meminta maaf atas pemeriksaan yang sangat ketat itu, apalagi ditengah terpaan panasnya matahari kota Denpasar. \”Maaf, kita juga sama-sama kepanasan,\” kata pria berbadan kekar itu. Rupanya kulit muka, kepala, dan lehernya mulai memerah.

Lepas dari pemeriksaan yang terasa berlebihan itu, para wartawan pun di \”karantina\” dan dilarang keluar masuk. \”Pintu jangan dibuka, oke!\” kata seorang anggota SS dengan nada agak marah, ketika seorang wartawan membuka pintu kaca yang menghadap pantai.

Paranoid tidak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *